JEGULAN

Jegulan

sejarah jemparingan panahan tradisional busur panahJemparingan – Sri Paduka Paku-Alam VIII

Khusus untuk para abdi-dalem dan keluarga kraton, jemparingan dilakukan dg posisi melintang, tanpa dibidik dg mata, melainkan dg hati.
k

# Asal-usul Jemparingan di Kesultanan Yogyakarta

Asal usul jemparingan di Kesultanan Yogyakarta, atau juga dikenal sebagai jemparingan gaya Mataram Ngayogyakarta, dapat ditelusuri sejak awal keberadaan Kesultanan Yogyakarta.

Sri Sultan Hamengku Buwono I (1755-1792), raja pertama Yogyakarta, mendorong segenap pengikut dan rakyatnya untuk belajar memanah sebagai sarana membentuk watak kesatria.

Watak kesatria yang dimaksudkan adalah empat nilai yang harus disandang oleh warga Yogyakarta. Keempat nilai yang diperintahkan Sri Sultan Hamengku Buwono I untuk dijadikan pegangan oleh rakyatnya tersebut adalah : sawiji, greget, sengguh, dan ora mingkuh.

Sawiji berarti berkonsentrasi, greget berarti semangat, sengguh berarti rasa percaya diri, dan ora mingkuh berarti bertanggung jawab. (*)

Menurut GBPH Prabukusumo, tradisi Jemparingan sempat vakum lama dan baru mulai dilaksanakan lagi pada tahun 2013 (**)

Teknik di atas oleh kalangan UMUM dikenal dg istilan : jegulanjenthotan, atau undlup ini baru MULAI DIAJARKAN untuk masyarakat UMUM mulai 16 Januari 2018Sebelumnyahe.3x saya sendiri dilarang utk mengikutinya.

 

Baca juga : Panahan Indonesia

 

* https://kratonjogja.id/kagungan-dalem/14/jemparingan-gaya-mataram
** (https://jogjaprov.go.id/berita/detail/jemparingan-gandhewa-mataram-mengandung-filosofi-satriya)