Sejarah Jemparingan, by Kris-LA

Sejarah Jemparingan

sejarah jemparingan panahan tradisional jual busur panah

Penjemparing LangenAstro di bangsal Kamandungan, Kraton Yogyakarta

(www.KRISbudi.com) Para pemanah dari Paseduluran Jemparingan LangenAstro menghidupkan kembali jemparingan, dimulai dari kraton Yogyakarta.


Panahan-nya Kraton Yogyakarta – Jemparingan Mataraman dalam Iringan Gendhing Pandhelori

Dari arena Lomba Panahan Tradisional Rutin Selasa Wage dalam rangka Tingalan Dalem Sri Sultan Hamengku Buwono X, 13 September 2011, bertempat di halaman Kemandhungan Kidul, Keraton Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat.
Diabadikan oleh Agus Yuniarso (http://agus.yuniarso.com) untuk Galeri Video Yogyakarta (http://www.galerivideo.org). (*)

baca selengkapnya: Jemparingan Langenastro apa & siapa ?

sejarah jemparingan panahan tradisional busur panah

Dokumentasi Jemparingan Mataraman ‘tempo doeloe’ di tahun 1938. Tampak dengan baju berwarna gelap,KPH Praboe Soerjodilogo yang di kemudian hari bergelar Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Ario Paku Alam VIII, tokoh penting dalam pelestarian Jemparingan Mataraman sekaligus olahraga panahan di Indonesia (pendiri organisasi PERPANI / Persatuan Panahan Indonesia).

Jemparingan yang dikenal sekarang, AWALnya diwariskan Sri Sultan Hamengku Buwono 1 untuk melatih jiwa ksatria para prajurit / abdi dalem; dan SAMPAI SEKARANG masih tetap dijaga dan dilestarikan para Abdi-dalem kraton kasultanan Yogyakarta.

jemparingan langenastro panahan tradisional busur panah

Asal usul jemparingan di Kesultanan Yogyakarta, atau juga dikenal sebagai jemparingan gaya Mataram Ngayogyakarta, dapat ditelusuri sejak awal keberadaan Kesultanan Yogyakarta.

Sri Sultan Hamengku Buwono I (1755-1792), raja pertama Yogyakarta, mendorong segenap pengikut dan rakyatnya untuk belajar memanah sebagai sarana membentuk watak kesatria.

Watak kesatria yang dimaksudkan adalah empat nilai yang harus disandang oleh warga Yogyakarta. Keempat nilai yang diperintahkan Sri Sultan Hamengku Buwono I untuk dijadikan pegangan oleh rakyatnya tersebut adalah sawijigregetsengguh, dan ora mingkuh.

Sawiji berarti berkonsentrasi, greget berarti semangat, sengguh berarti rasa percaya diri, dan ora mingkuh berarti bertanggung jawab.

Sedari kecil, Beliau dikenal sangat cakap dalam olah keprajuritan, mahir berkuda, dan bermain senjata. Selain itu, beliau juga dikenal sangat taat beribadah sembari tetap menjunjung tinggi nilai-nilai luhur Budaya Jawa.

Pasca merdeka, Indonesia mulai berpartisipasi dan mengambil peranannya dalam pergaulan dunia melalui olahraga panahan.

l

Baca juga : TIPS memilih Gendewa & Jemparing

o

* http://jemparingan.blogspot.co.id/2013/07/jemparingan-mataraman-dalam-iringan.html
** https://kratonjogja.id/kagungan-dalem/14/jemparingan-gaya-mataram